Berangkat Kehujanan, Pulangnya Kenyang Soto

Hari ini bahkan belum benar-benar dimulai, tapi hujan sudah turun dengan sangat deras sejak pagi. Dari rumah, suara hujan langsung terasa berat, seperti tidak ada jeda sama sekali. Jalanan di depan rumah sudah basah, dan air mulai mengalir ke mana-mana. Saat berangkat, baru beberapa meter jalan sudah terlihat genangan. Beberapa titik yang biasanya aman ternyata sudah banjir. Mau tidak mau, perjalanan harus ekstra pelan. Air menutup jalan, bikin susah membedakan mana jalan rata dan mana yang berlubang. Pandangan juga terbatas karena hujan masih turun cukup kencang.

Naik motor di kondisi seperti ini benar-benar serba salah. Kalau terlalu pelan, motor gampang goyang karena air. Tapi kalau sedikit nambah kecepatan, cipratan air justru makin parah. Setiap kali ada motor atau mobil lewat lebih cepat, air langsung muncrat dan mengenai badan. Celana, sepatu, dan bagian bawah jaket sudah basah semua, meskipun dari awal sudah siap hujan. Di beberapa ruas jalan, banjir bikin arus kendaraan melambat. Ada yang berhenti ragu-ragu, ada juga yang nekat nerobos genangan. Aku sendiri memilih ikut pelan-pelan, daripada kenapa-kenapa. Pagi ini bukan soal cepat sampai, tapi soal sampai dengan aman.

Perjalanan jadi terasa lebih lama dan lebih melelahkan. Padahal jam masih pagi, tapi badan sudah basah dan sedikit capek. Sampai tujuan, hal pertama yang terpikir bukan langsung kerja, tapi bagaimana mengeringkan diri dan menenangkan napas sebentar. Hari ini tidak dimulai dengan nyaman. Hujan deras, banjir di mana-mana, badan basah karena cipratan air di jalan. Tapi mau tidak mau, aktivitas tetap berjalan. Pagi ini mengingatkan lagi bahwa rutinitas sehari-hari sering kali harus berhadapan langsung dengan kondisi yang tidak ideal, dan yang bisa dilakukan hanyalah menyesuaikan diri.

Di tengah hujan yang belum juga reda, makan soto Bu Fitra jadi bagian paling “menghibur” hari ini. Setelah pagi yang basah, jalanan banjir, dan badan capek karena hujan deras, duduk dan makan soto hangat terasa seperti hadiah kecil. Kami memesan menu yang sama. Soto segar khas Klaten, kuahnya bening dan ringan, tapi rasanya pas. Tidak terlalu berat, tapi cukup bikin badan terasa hangat. Dimakan pelan-pelan, uapnya naik, rasanya cocok sekali dengan kondisi cuaca hari ini.

Yang bikin makin nikmat, harganya benar-benar bersahabat. Dengan harga yang sangat amat murah, satu porsi soto sudah bikin kenyang. Ditambah gorengan serba seribu—tempe, tahu, bakwan—yang masih hangat, lalu satean serba Rp2.500 yang sederhana tapi cukup buat pelengkap. Tidak ada yang mewah dari makan siang ini, tapi justru di situ letak nikmatnya. Di saat hujan terus turun tanpa jeda, soto Bu Fitra jadi penghangat badan.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *