Category: Uncategorized

  • Sedikit Flu, Banyak Macet

    Hari ini tuh salah satu hari yang rasanya pengen dilewatin sambil setengah merem. Bangun tidur badan udah kasih tanda-tanda protes: tenggorokan nggak enak, hidung mulai mampet, kepala agak berat. Flu ringan sih, tapi cukup buat bikin mood jadi setengah-setengah. Di satu sisi pengen istirahat, di sisi lain ya tetap harus jalanin hari. Akhirnya bangun pelan-pelan, minum air hangat, dan nyiapin diri sambil ngeluh dikit ke diri sendiri. Keluar rumah dengan kondisi badan kayak gitu rasanya perjuangan kecil. Setiap langkah tuh kerasa lebih berat dari biasanya. Dan seperti sudah bisa ditebak, perjalanan hari ini nggak berjalan mulus. Macet panjang di sekitar rel kereta Stasiun Bekasi. Bukan macet biasa, tapi yang bikin kendaraan berhenti lama, maju dikit, berhenti lagi, begitu terus. Rasanya waktu jalan lebih cepat daripada kendaraan.

    Di tengah macet itu, flu jadi makin terasa. Kepala pusing pelan-pelan, badan pegal, dan pikiran mulai capek duluan. Suara klakson bersahutan, motor nyelip kanan kiri, panas, dan debu. Kadang aku cuma bisa diem, narik napas, dan nerima keadaan. Mau marah juga nggak ada gunanya, mau ngeluh ke siapa juga. Ya sudah, jalanin aja sambil berharap rel kereta segera dibuka. Badan lagi nggak fit, ketemu situasi yang ribet, semuanya numpuk.

    Sampai tujuan dengan sisa tenaga, rasanya lega tapi juga pengen langsung rebahan. Hari ini ngajarin satu hal sederhana: dengerin badan itu penting. Kadang kita terlalu maksa karena ngerasa harus selalu kuat. Padahal, ngaku capek dan ngasih waktu buat istirahat itu juga bentuk tanggung jawab ke diri sendiri. Malam ini aku cuma pengen minum obat, makan yang hangat, dan tidur lebih cepat. Nggak muluk-muluk. Semoga flu cepat reda, badan balik enak, dan besok jalanan lebih bersahabat. Hari ini biarlah jadi hari yang pelan, tapi tetap dijalani sampai selesai.

  • Rekening Bisa Hilang, Stres Menyusul

    Hari ini aku membaca tulisan Catatan Harian Pak Dahlan berjudul “Stres Debanking”, dan entah kenapa rasanya tidak bisa langsung dilupakan. Mungkin karena istilahnya terdengar teknis, tapi dampaknya sangat manusiawi: stres, cemas, dan rasa tidak berdaya. Debanking, kalau disederhanakan, adalah kondisi ketika bank memutuskan hubungan dengan nasabahnya. Bukan karena saldo nol, bukan karena pelanggaran yang jelas, tapi karena dianggap “berisiko”. Dalam tulisan itu, Pak Dahlan mengangkat kasus Donald Trump yang rekening dan fasilitas perbankannya ditutup oleh bank besar. Akibatnya, Trump menggugat. Ia merasa bukan sekadar kehilangan layanan bank, tapi kehilangan reputasi.

    Yang membuatku berhenti sejenak adalah ini:
    ternyata di dunia modern, punya atau tidaknya akses ke bank bisa menentukan eksistensi seseorang atau perusahaan. Tanpa bank, transaksi macet. Tanpa transaksi, bisnis lumpuh. Tanpa bisnis, reputasi ikut runtuh. Rantai sebab-akibatnya panjang, tapi dimulainya hanya dari satu keputusan sepihak. Tulisan ini terasa seperti pengingat halus bahwa sistem keuangan bukan hanya soal angka dan laporan. Ada kuasa besar yang bekerja diam-diam. Bank bisa memilih siapa yang “layak” dan siapa yang “berisiko”. Dan ketika label itu ditempelkan, efeknya menjalar ke mana-mana. Nasabah lain ikut menjauh. Institusi lain ikut waspada. Nama baik perlahan tergerus.

    Aku jadi berpikir, betapa rapuhnya posisi kita di hadapan sistem. Kita merasa aman selama semuanya normal. Tapi ketika satu pintu ditutup, baru terasa betapa tergantungnya kita pada struktur yang tidak kita kendalikan sepenuhnya. Tidak heran kalau Pak Dahlan menamai ini stres debanking—karena yang diserang bukan hanya dompet, tapi juga mental. Yang menarik, tulisan ini tidak terasa menggurui. Seperti biasa, Pak Dahlan menyampaikannya dengan gaya bercerita, seolah sedang mengobrol santai sambil menyelipkan isu besar dunia. Justru dari kesantaiannya itu, maknanya terasa lebih dalam. Kita diajak berpikir tanpa merasa digurui. Setelah membaca, aku pulang dengan satu kesadaran kecil: kepercayaan adalah mata uang paling mahal di dunia keuangan. Sekali hilang, tidak mudah dibeli kembali. Dan di tengah sistem yang makin ketat, transparansi dan komunikasi mungkin sama pentingnya dengan kekuatan modal itu sendiri.

  • Ketika Ngambek Jadi Cara Bertumbuh

    Sore menjelang pulang kerja aku membaca satu tulisan dari Pak Dahlan Iskan dengan judul Transformasi Ngambek. Judulnya saja sudah bikin senyum kecil—karena kata “ngambek” biasanya identik dengan hal remeh, kekanak-kanakan, dan sering kali dianggap tidak produktif. Tapi seperti biasa, tulisan ini justru mengajak berpikir lebih jauh: bagaimana kalau ngambek bukan sekadar emosi sesaat, melainkan awal dari sebuah perubahan besar?

    Ceritanya mengalir tentang seorang dokter yang punya gagasan berbeda soal keadilan. Ia ingin sistem honor dokter tidak lagi ditentukan oleh usia atau masa kerja, melainkan oleh peran dan kontribusi nyata. Ide itu terdengar masuk akal, tapi ternyata tidak mudah diterima. Ditolak. Mentah-mentah. Dan di titik itulah muncul reaksi yang sangat manusiawi: ngambek. Bukan ngambek yang dramatis, tapi cukup untuk membuat jarak, cukup untuk membuat diam, dan cukup untuk membuat banyak orang tidak lagi bekerja sepenuh hati.

    Yang menarik, dari situ justru lahir ruang dialog. Ngambek tidak berhenti sebagai sikap pasif, tapi berubah menjadi energi. Orang-orang mulai mendengar. Kompromi terjadi. Perubahan dijalankan. Sistem yang dulu dianggap mustahil justru membawa rumah sakit itu berkembang pesat. Pendapatan meningkat, kinerja membaik, dan keadilan yang diperjuangkan perlahan menemukan bentuknya.

    Namun hidup tidak pernah berhenti menguji. Ketika perubahan itu berhasil, justru muncul badai lain: tuduhan, kecurigaan, dan prasangka. Di titik ini, sang tokoh kembali memilih diam. Sekilas terlihat seperti menghindar, tapi sebenarnya ia memberi ruang bagi fakta untuk bicara. Semua dibuka, semua diperiksa, dan akhirnya tuduhan itu runtuh dengan sendirinya.

    Membaca kisah ini membuatku berhenti sejenak dari rutinitas. Aku jadi berpikir tentang diri sendiri. Tentang momen-momen kecil ketika aku merasa kesal, tidak didengar, atau kecewa. Selama ini aku menganggap ngambek sebagai sesuatu yang harus segera dihindari. Tapi dari cerita ini, aku belajar satu hal sederhana: ngambek itu manusiawi. Yang berbahaya bukan perasaannya, tapi kalau kita kehilangan arah setelahnya.

    Ngambek bisa jadi jeda. Bisa jadi alarm. Bisa jadi tanda bahwa ada nilai yang sedang kita jaga. Selama setelahnya kita tetap melangkah, tetap berpikir jernih, dan tetap berpegang pada tujuan baik, maka ngambek bukan akhir—melainkan awal dari transformasi.

    Hari ini aku menutup bacaan itu dengan senyum kecil dan satu catatan di kepala: tidak apa-apa merasa kesal, asal jangan berhenti bertumbuh.

  • Berangkat Kehujanan, Pulangnya Kenyang Soto

    Hari ini bahkan belum benar-benar dimulai, tapi hujan sudah turun dengan sangat deras sejak pagi. Dari rumah, suara hujan langsung terasa berat, seperti tidak ada jeda sama sekali. Jalanan di depan rumah sudah basah, dan air mulai mengalir ke mana-mana. Saat berangkat, baru beberapa meter jalan sudah terlihat genangan. Beberapa titik yang biasanya aman ternyata sudah banjir. Mau tidak mau, perjalanan harus ekstra pelan. Air menutup jalan, bikin susah membedakan mana jalan rata dan mana yang berlubang. Pandangan juga terbatas karena hujan masih turun cukup kencang.

    Naik motor di kondisi seperti ini benar-benar serba salah. Kalau terlalu pelan, motor gampang goyang karena air. Tapi kalau sedikit nambah kecepatan, cipratan air justru makin parah. Setiap kali ada motor atau mobil lewat lebih cepat, air langsung muncrat dan mengenai badan. Celana, sepatu, dan bagian bawah jaket sudah basah semua, meskipun dari awal sudah siap hujan. Di beberapa ruas jalan, banjir bikin arus kendaraan melambat. Ada yang berhenti ragu-ragu, ada juga yang nekat nerobos genangan. Aku sendiri memilih ikut pelan-pelan, daripada kenapa-kenapa. Pagi ini bukan soal cepat sampai, tapi soal sampai dengan aman.

    Perjalanan jadi terasa lebih lama dan lebih melelahkan. Padahal jam masih pagi, tapi badan sudah basah dan sedikit capek. Sampai tujuan, hal pertama yang terpikir bukan langsung kerja, tapi bagaimana mengeringkan diri dan menenangkan napas sebentar. Hari ini tidak dimulai dengan nyaman. Hujan deras, banjir di mana-mana, badan basah karena cipratan air di jalan. Tapi mau tidak mau, aktivitas tetap berjalan. Pagi ini mengingatkan lagi bahwa rutinitas sehari-hari sering kali harus berhadapan langsung dengan kondisi yang tidak ideal, dan yang bisa dilakukan hanyalah menyesuaikan diri.

    Di tengah hujan yang belum juga reda, makan soto Bu Fitra jadi bagian paling “menghibur” hari ini. Setelah pagi yang basah, jalanan banjir, dan badan capek karena hujan deras, duduk dan makan soto hangat terasa seperti hadiah kecil. Kami memesan menu yang sama. Soto segar khas Klaten, kuahnya bening dan ringan, tapi rasanya pas. Tidak terlalu berat, tapi cukup bikin badan terasa hangat. Dimakan pelan-pelan, uapnya naik, rasanya cocok sekali dengan kondisi cuaca hari ini.

    Yang bikin makin nikmat, harganya benar-benar bersahabat. Dengan harga yang sangat amat murah, satu porsi soto sudah bikin kenyang. Ditambah gorengan serba seribu—tempe, tahu, bakwan—yang masih hangat, lalu satean serba Rp2.500 yang sederhana tapi cukup buat pelengkap. Tidak ada yang mewah dari makan siang ini, tapi justru di situ letak nikmatnya. Di saat hujan terus turun tanpa jeda, soto Bu Fitra jadi penghangat badan.

  • Ketika Neraka Tak Lagi Menakutkan bagi Para Pemegang Amanah

    Hari ini saya membaca artikel Catatan Harian Dahlan berjudul “Pati Madiun” di Disway dan pikiran saya langsung dipenuhi kegelisahan yang sulit dijelaskan. Indonesia adalah negara dengan mayoritas penduduk beragama Islam, sebuah agama yang sejak awal menempatkan kejujuran, amanah, dan tanggung jawab moral sebagai nilai utama. Kejujuran sejatinya adalah nilai universal, tidak terbatas pada agama tertentu, tetapi ketika nilai ini terus-menerus diabaikan oleh para pejabat yang memegang amanah rakyat, muncul pertanyaan besar tentang ke mana perginya hati nurani. Kasus korupsi yang silih berganti, seperti yang diceritakan dalam artikel tersebut, seolah menampilkan potret kehidupan palsu: kekuasaan, jabatan, dan kekayaan dikejar tanpa rasa takut akan dosa, tanpa rasa malu kepada publik, bahkan tanpa bayangan tentang neraka setelah kehidupan dunia yang sementara ini berakhir.

    Yang lebih mengkhawatirkan, maraknya berita korupsi hari ini sangat mudah diakses oleh semua kalangan usia. Anak-anak tumbuh dalam lingkungan informasi yang memperlihatkan bahwa kebohongan, manipulasi, dan pengambilan yang bukan haknya adalah sesuatu yang “biasa” dilakukan orang dewasa, bahkan oleh mereka yang disebut pemimpin. Tanpa kita sadari, normalisasi korupsi ini merembes ke perilaku sehari-hari dalam bentuk yang kecil dan sering dianggap sepele. Anak yang tidak mengembalikan kembalian belanjaan ibunya, berbohong demi uang jajan tambahan, atau memanipulasi cerita agar lolos dari hukuman, sesungguhnya sedang mempelajari pola yang sama—gejala awal korupsi dalam skala kecil. Jika hal-hal kecil ini dibiarkan, maka tidak mengherankan ketika kelak mereka dewasa, nilai kejujuran terasa asing dan amanah tidak lagi memiliki makna.

    Artikel Pati Madiun tidak hanya bicara tentang kepala daerah yang terjaring kasus hukum, tetapi juga mengingatkan bahwa korupsi adalah persoalan budaya dan moral yang diwariskan secara diam-diam melalui contoh, bukan sekadar nasihat. Ketika kejahatan dilakukan berulang dan terus diberitakan tanpa rasa malu dari para pelakunya, masyarakat perlahan menjadi kebal. Pada titik inilah agama, pendidikan, dan keluarga seharusnya kembali mengambil peran penting, bukan hanya mengajarkan mana yang benar dan salah, tetapi juga menanamkan rasa takut berbuat curang meski tidak ada yang melihat. Membaca artikel ini membuat saya sampai pada satu kesimpulan pahit: korupsi besar yang kita kecam hari ini berawal dari kejujuran kecil yang dulu kita abaikan.

  • Tetap masak

    Biasanya saat bangun pagi, aku selalu menyiapkan bahan makanan untuk dimasak ibuku. Kusiapkan sayuran menjadi potongan yang siap dimasak saat ibuku bangun tidur. Yap urutannya adalah aku yang bangun pertama kali, ibuku, adikku, lalu bapak. Tapi pagi ini aku tidak debag debug mempersiapkan pisau dan talenan untuk memotong sayuran, karena ternyata ibuku tidak belanja semalam. Memang beberapa kali ibu tidak mood masak karena sudah terlalu lelah setiap hari menempuh perjalanan untuk kerja dari Bekasi ke Kota Tua selama 2 jam. Belum lagi ditambah lalu lintas jabodetabek di musim hujan ini. Setiap tidak masak, ibuku selalu membeli sayur dan lauk matang di warung, mulai yang berwarna hijau, berlemak, berasa pedas kuat. Tapi niat ibuku tidak masak pagi ini gagal karena tiba-tiba turun hujan lebat selepas subuh. Ku gali kontainer dalam kulkas, masihkah tersimpan bahan makanan yang belum sempat dimasak dan hampir busuk jika tidak diolah dalam beberapa minggu lagi.. Begitulah isi kulkas dari rumah yang penghuninya memiliki aktivitas setiap hari, rumah yang kosong saat teriknya siang menerpa.

    Ternyata dalam kontainer kulkas masih ada sayur oyong yang diberikan tetangga sebagai oleh-oleh selepas pulang kampung dari Purbalingga. Sejujurnya selama ini aku dan ibu hanya pernah memasak oyong menjadi sop bihun oyong saja. Sayur yang hanya dimasak jika weekend saja haha karena jika weekday rasanya ribet bagi kita untuk membawa bekal yang berkuah. Menggeledah kembali isi kulkas, ternyata tidak ada bihun yang ada tahu kulit 5 sampai 7 pcs. Karena diluar masih hujan deras, tidak memungkinkan untuk membeli lauk dan sayur, jadinya aku dan ibu berpandangan dengan tatapan ibu mengartikan bisa pake jas ujan beli sayur matang saja dan tatapanku mengartikan aku potong saja langsung oyong, bawang, dan cabe ini, agar langsung aku masak. Dan akhirnya pagi ini rutinitas memasak tetap terjadi, dengan menu oseng oyong campur tahu dan nugget ayam goreng. Sebagai anak manajemen hihi, memasak juga menjadi bahan perhitungan, jika membeli bisa habis 50.000-an, sedangkan jika memasak dengan bahan yang didapatkan gratis akan jauh lebih murah. Ternyata oseng oyong ini enak saja seperti oseng pada umunya, malah memasaknya tidak membutuhkan waktu yang lama karena oyong pada dasarnya mudah lunak. Dan benar saja, oseng oyong yang aku masak langsung habis untuk sarapan bapak, adik, dan lauk bekal 4 tempat. Hmm kuselamatkan beberapa rupiah hari ini karena tidak jadi membeli lauk matang hehe

  • Begitukah semuanya(?)

    Kenapa hari ini dinobatkan sebagai hari tersibuk? Ketika semua orang sensi jika mendengar hari ini, yap Hari Senin.

    Hari dimana jika disebut saat weekend akan membuat mata tersipit dan otomatis bombastic side eye. Sebenarnya tidak ada yang beda dengan hari lainnya, tapi masih membingungkan darimana asalnya hari ini seketika lalu lintas bagai jet ingin menembus langit, segalanya terdengar di hari ini mulai teriakan ibu yang membangunkan anaknya sekolah, omelan ibu yang melihat ayah memecahkan gelas kopinya, klakson di jalanan lampu merah, dan pertolongan anak mencari dimana kaos kaki sebelahnya. Hal tersebut sama yang terjadi dirumahku pagi ini. Adik ku diomeli ibu karena menghabiskan 30 menit di kamar mandi, padahal yang ingin mandi masih ada 3 orang lagi. Lega melihat dia keluar karena giliranku yang mandi. Tapi perut mules bapak yang meraung membuka langkah kakinya secepat kilat masuk menyalipku yang sedang mengambil handuk. Lagi-lagi haru menunggu laki-laki yang berada di kamar mandi. Kali ini bukan ibuku yang teriak, tapi aku yang sudah gregetan. Sudah dibilang pagi-pagi jangan makan sambal, bapaku ngeyel tetap makan sambal.

    Kutunggu keluarnya bapak smabil menyiapkan bekal sekeluarga. Lama sekali beliau keluar mungkin bisa sambil kubaca novel berlembar-lembar. Setelah bapa keluar, aku masuk kamar mandi dnegan muka jengkel habisnya lama bangettt. Bermenit-menit aku mandi saat selesai dan keluar bapaku berkata “Lah udah, cepet banget mandinya” Gimana tidak ngebut mandi, jam sudah menunjukkan pukul 06.45 dimana 15 menit lagi jadwal ku harus berangkat kerja. Kujawab dengan “iyaa dah mau telat” beliau hanya “hehehe” huft bapaku ini. Ntah adik laki-lakiku ataupun bapakku menghabiskan waktu untuk membangun tol di kamar mandi. Begitukah semua laki-laki(?) selalu menghabiskan banyak waktu saat di kamar mandi

  • Habit Tak Tertulis di Hari Kamis

    Yap sudah bisa dilihat ya dari judul hari ini hari apa, Hari Kamis. Habit? Kebiasaan hari hari ku adalah membawa bekal, disamping rencana untuk berhemat, dikeluargaku memang terbiasa untuk membawa bekal sedari dulu dan jarang untuk jajan jika weekday. Mungkin beberapa tanggapan hal tersebut bisa dibilang iri banget sampe segitunya, sebetulnya arah membawa bekal sehari hari karena dari kami masing masing sering kelepasan ngga enak badan karena beli makanan diluar. Bapak aku memiliki alergi yang kulitnya akan bereaksi gatal sekali, reaksi tersebut muncul jika mengonsumsi telur, ikan, seafood apalagi, dan jika ada masakan yang dimasak menggunakan minyak ataupun peralatan bekas bahan bahan tersebut pun juga bisa membuat gatal. Itu sebabnya akan lebih aman kalau bapak membawa bekal dari rumah. Kemudian adikku, dia memang anaknya ngga suka jajan, tepatnya malas untuk memesan makanan, makannya dia membawa bekal yang nilai plusnya adalah porsi sangat amat banyak sekali. Kemudian aku dan ibu ku yang memiliki riwayat asam lambung, harus berhati hati dengan pola makan, terkhusus aku yang pernah tidak sadarkan diri setelah makan nasi padang, sejak saat itu setiap aku makan nasi padang aku selalu sesak napas dan muntah. Bye nasi padang 🙁

    Di kantor untuk hari Kamis, beberapa karyawan tidak membawa bekal karena terdapat ketentuan tidak tertulis untuk membeli menu ayam cabai ijo hihi. Awalnya aku kira hanya hari jum’at saja terdapat ketentuan untuk tidaka membawa bekal, ternyata hari Kamis pun kita bisa memesan menu yang sama, lebih seringnya adalah ayam cabai ijo. Memang ini tidak bisa dikatakan peraturan karena sifatnya fleksibel, tapi dengan habit tidak tertulis tidak bertuan ini bisa membuat bonding antar sesama rekan kerja. Dan hari Kamis ini kita juga minum kopi serentak karena dibelikan oleh rekan kerja yang berulang tahun selamat ulang tahunnn buuu, berkah selalu rezekinyaaa<3

    Aku sangat suka kopi, mungkin dipekerjaan aku sebelumnya hampir setiap hari aku minum kopi, dan itu alasan aku lebih menghindari dan menahan nafsu makan nasi padang hehe. Tapi beberapa hari aku kontrol minum kopi karena saat malam terkadang suka sesak napas tiba tiba, daripada merepotkan dan kenapa napa aku menahan godaan kafein itu huft..

  • Ketika memberanikan diri masuk dunia IT

    Sumber: Google Play (diakses pada 14/01/2026)

    Haii, kembali lagi bersama aku, seorang agribisnis yang belajar marketing IT. Beberapa hari lalu aku menyinggung soal Promox, bingung yaa apa itu proxmox aku pun bingung saat awal-awal yaa sekarang masih sih sedikit bingung hehe Jadi proxmox adalah virtualisasi server yang dapat digunakan untuk mendukung dibukanya beberapa server dalam satu server fisik. Saat awal aku mendengar beberapa kata asing yaitu simbra, proxmox, dan lainnya. Hari ini aku mendengar dan belajar tentang satu hal baru yaitu SSL.

    Dibalik overthingking nya aku terjun ke dunia IT, ada yang yang aku syukuri adalah aku dibagian sales & business development yang tidak terlalu perlu untuk mengetahui kerja teknis real IT nyaa. Selain itu, aku dibimbing dan diarahkan secara bertahap dalam mengerjakan jobdesc sehingga aku tidak kalut ketakutan dengan kalimat bayangan “Marketing IT harus paham produk nya ke seluk beluk”. Perlahan aku dijelaskan apa yang harus ku lakukan sebagai sales & business development berbagai layanan perusahaan. Hari ini aku belajar untuk membuat penawaran salah satu layanannya yaitu SSL Certificate melalui aplikasi Zoho. Memang aku baru pertama kali mendengar dan menggunakan aplikasi tersebut, “kenapa takut juga make aplikasi asing itu?!” ngga nggaa, hmm aku ngga selalu overthingkng yahhh, Jujur dengan mentor yang membimbing aku dalam pekerjaan ini menjelaskan dengan jelas dan perlahan membuat aku percaya bisa mengerjakannya, selain itu kalimat welcome nya selalu membuat aku tenang hehe contohnya “kalo ngga paham, lupa, atau bingung langsung tanya aja yaa” huaa lega banget, terimakasih bu fit hehe

    Alhamdulillah hari pertama bekeja menggunakan aplikasi tersebut rasanya bisa aku ikuti dan kerjakan dengan tenang tanpa mengigit dan merusak kuku-ku iyaa itu kekuranganku, sata gelisah dan overthingking, rasanya kuku ku bisa rusak sebagian . Kebiasaan buruh itu masih kuusahakan untuk menghilang, walaupun sulit karena itu darisana nya kali yaa 🙁

    Bekerja di bidang baru di tahun baru selalu kusyukuri dan kuusahakan mengerjakannya dengan baik. Wish me luck! Anyeong!

  • Feels too salesy

    Dilihat langit masih belum tersenyum melihat antusias anak anak untuk berangkat sekolah. Hari selasa pagi, langit masih mendung membuat cekatan para profesi yang ingin menjalankan kegiatannya. Mereka takut dan khawatir akan terjebak lagi dalam hujan dan angin seperti kemarin. Aku pun khawatir, namun tidak begitu ku pikirkan karena pikiranku disibukkan dengan pengelolaan job desc sebagai anak perempuan pertama yang mondar mandir sana sini. Rutinitas ku sebagai anak perempuan pertama yang memiliki adik laki laki selalu saja sama dan bisa dibilang terstruktur. Tidak bisa dikatakan juga bahwa hanya aku yang memiliki jobdesc rutin setiap pagi. Aku yang pertama bangun, setelah solat langsung memasak nasi, menyiapkan bahan masakan yang akan dimasak ibu, menyapu, mengepel, setrika seragam kerja dan kuliah, menyiapkan bekal sekeluarga, dan terakhir menyiapkan perlengkapan bapa kerja.

    Tapi pagi ini ada satu hal yang perlu aku lakukan yang membuat terasa seperti aku berjualan hihi.. Hari ini terjadwal giliran aku untuk merebus bahan makanan real food seperti jagung, singkong, ubi, dan kacang sebagai snack harian di kantor. Hari sebelumnya saat sampai dirumah langsung dikupas dan dibersihkan oleh bapak aku, beliau memang suka tangannya bergerak agar aku bisa langsung mengukusnya esok hari. Dengan termos nasi biru yang kupinjam ke tetangga, aku pangku termos berukuran sedang itu ditengah motor. Saat pergantian akomodasi dari membonceng ibu ku menjadi naik ojok online, driver bertanya kerja apa aku sampe bawa termos seperti itu. Saat aku jawab bekerja di bidang IT, makin terheran driver tersebut. Mungkin bisa aku katakan ini salah satu privilege menjadi karyawan excellent yaitu setiap hari mendapatkan asupan yang bisa membantu jiwa raga dalam bekerja.