Category: Uncategorized

  • Pandangan Pribadi dari Aku yang Belum Kenal Dunia Saham

    Aku baru saja membaca artikel berjudul “Buka Blak” yang ditulis oleh Pak Dahlan Iskan di Catatan Harian Dahlan Disway. Terus terang, aku ini bukan orang yang paham dunia saham. Bahkan bisa dibilang masih awam banget. Selama ini, saham di pikiranku cuma soal angka naik turun di layar, grafik warna merah dan hijau, serta istilah-istilah yang terdengar rumit. Tapi setelah membaca tulisan Pak Dahlan Iskan, aku jadi punya sudut pandang baru, meskipun masih dari kacamata orang luar.

    Dalam artikelnya, Pak Dahlan Iskan membahas kondisi pasar saham Indonesia yang sedang bergejolak. Ia menjelaskan bagaimana harga saham perusahaan-perusahaan besar bisa turun tajam dalam waktu singkat, sampai nilainya seolah-olah “hilang” triliunan rupiah. Padahal, menurut Pak Dahlan Iskan, uang itu sebenarnya tidak benar-benar lenyap dalam bentuk fisik, melainkan berubah nilainya di sistem pasar modal. Buat aku yang belum mengenal saham, penjelasan ini cukup membuka pikiran, karena selama ini aku mengira penurunan saham berarti uangnya benar-benar raib.

    Yang paling menarik perhatian aku adalah saat Pak Dahlan Iskan menyinggung soal kurangnya keterbukaan di pasar saham. Ia menilai bahwa kepemilikan saham di banyak perusahaan belum sepenuhnya transparan. Ada saham-saham yang pemilik sebenarnya tidak jelas, sehingga membuka peluang terjadinya permainan harga atau manipulasi. Dari sinilah istilah “buka blak” yang disampaikan Pak Dahlan Iskan terasa masuk akal — bahwa pasar modal seharusnya lebih terbuka, lebih jujur, dan lebih jelas soal siapa memegang apa.

    Sebagai orang yang belum paham saham, aku menangkap satu pesan penting dari tulisan Pak Dahlan Iskan: transparansi itu sangat krusial. Kalau di kehidupan sehari-hari saja kita butuh kejelasan saat membeli barang atau bekerja sama dengan orang lain, apalagi di dunia saham yang nilainya bisa mencapai triliunan rupiah. Ketika informasi tidak terbuka, yang paling berisiko justru orang-orang kecil atau pemula yang tidak punya cukup pengetahuan dan akses.

    Tulisan Pak Dahlan Iskan juga membuat aku sadar bahwa dunia saham bukan sekadar soal untung dan rugi. Ada sistem, aturan, dan etika yang seharusnya dijaga agar pasar tetap sehat. Aku jadi berpikir, kalau suatu saat nanti tertarik masuk ke dunia saham, rasanya aku harus benar-benar belajar dari dasar, memahami istilah-istilahnya, dan tidak asal ikut tren. Artikel ini seperti peringatan halus agar tidak gegabah.

    Pada akhirnya, meskipun aku belum mengenal dunia saham secara mendalam, tulisan Pak Dahlan Iskan berhasil membuat aku lebih peka dan kritis. Setidaknya sekarang aku tahu bahwa di balik angka-angka saham yang terlihat di layar, ada banyak hal penting seperti keterbukaan, kejelasan, dan keadilan. Dan mungkin, dari sini, pelan-pelan rasa ingin tahuku tentang dunia saham mulai tumbuh.

  • Pagi yang Berantakan, Tapi Tetap Sampai Tepat Waktu

    Di kantorku, ada satu kebiasaan kecil yang sebenarnya sederhana, tapi hangat: makan real food hasil kukusan. Jagung, ubi, kacang, pisang—semuanya dikukus tanpa tambahan apa pun. Yang membawanya bergiliran, tidak terjadwal secara kaku, tapi semua saling mengingat. Bahan mentahnya disediakan oleh kantor, lalu dibawa pulang oleh yang kebagian giliran.

    Saat giliranku tiba, biasanya aku membawa bahan mentah itu pulang. Sesampainya di rumah, langsung aku cuci dan potong menjadi beberapa bagian. Tujuannya sederhana: supaya pagi harinya aku bisa sedikit lebih santai. Tinggal mengukus, tanpa terburu-buru. Pola ini biasanya berjalan lancar, begitu juga hari-hari sebelumnya.

    Namun pagi ini berbeda.

    Aku terlambat bangun. Penyebabnya sepele tapi fatal: semalam lupa mengatur ulang alarm agar berbunyi lebih pagi dari biasanya. Begitu sadar, aku langsung ke dapur dengan setengah mengigau, menumpangkan panci kukus besar ke atas kompor. Di titik ini, masalah pertama sudah terjadi—kesiangan.

    Belum selesai sampai di situ. Di tengah proses mengukus, muncul masalah kedua: gas habis. Untungnya, penjual gas ada tepat di samping rumah. Aku langsung membeli gas dengan tergopoh-gopoh, sambil berharap waktu masih bisa dikejar.

    Setelah semua urusan dapur selesai, aku berangkat kerja. Jam menunjukkan pukul 07.05—terlambat tiga menit dari waktu berangkat biasanya. Di perjalanan, awalnya semua terasa lancar, sampai muncul masalah ketiga yang tidak direncanakan: ojek online yang kutumpangi kebingungan arah.

    Driver berulang kali mengitari area mal tempat aku menunggu. Mungkin karena faktor usia, atau memang jalanan Bekasi yang penuh putar balik dan lampu merah sering kali membingungkan. Aku hanya bisa menarik napas, mencoba tetap tenang, dan berharap waktu berpihak.

    Dengan tiga hal di luar rencana—kesiangan, gas habis, dan driver tersesat—aku akhirnya sampai di kantor pukul 07.50. Tinggal sepuluh menit lagi menuju batas keterlambatan.

    Pagi itu memang tidak sempurna. Namun, dari semua kekacauan kecil yang terjadi, aku belajar satu hal: tidak semua pagi harus rapi untuk bisa berakhir baik. Kadang, cukup dengan bertahan, bergerak, dan tidak menyerah pada kepanikan, kita tetap bisa sampai di tujuan.

  • Ketika Kepemimpinan dan Reformasi Pasar Modal Dipandang “Bukan Sekadar PT”

    https://www.hajimakbul.com/2019/04/belajar-dari-disway-dahlan-iskan-way.html

    Membaca artikel “PT Bukan” yang ditulis oleh Pak Dahlan Iskan di Disway memberi saya ruang refleksi tentang kepemimpinan, cara berpikir institusi, dan bagaimana reformasi seharusnya dijalankan di sektor strategis seperti pasar modal. Gaya tulisan Pak Dahlan yang ringan namun tajam kembali menunjukkan bahwa isu besar tidak selalu harus dibahas dengan bahasa yang rumit. Justru melalui analogi sederhana dan pengamatan personal, Pak Dahlan berhasil mengajak pembaca melihat persoalan dari sudut yang lebih jujur dan apa adanya.

    Dalam tulisan tersebut, Pak Dahlan menyoroti perbedaan gaya kepemimpinan dan komunikasi di lingkaran Otoritas Jasa Keuangan dan Bursa Efek Indonesia. Ia menggambarkan bagaimana kehati-hatian yang berlebihan, terutama dalam bertutur dan mengambil keputusan, dapat berujung pada lambannya respons terhadap tekanan pasar. Bagi saya, pesan ini terasa relevan: di tengah dinamika ekonomi global yang bergerak cepat, institusi publik tidak hanya dituntut rapi secara regulasi, tetapi juga gesit secara tindakan. Apa yang disampaikan Pak Dahlan bukan sekadar kritik personal, melainkan cerminan kegelisahan terhadap budaya birokrasi yang kerap terlalu aman untuk bergerak maju.

    Pergantian kepemimpinan yang disinggung Pak Dahlan, termasuk munculnya janji perubahan “secepat mungkin”, justru menjadi catatan penting. Frasa tersebut terdengar optimistis, tetapi tanpa ukuran waktu dan target yang jelas, ia mudah kehilangan makna. Di sinilah saya sependapat dengan Pak Dahlan: reformasi tidak cukup disampaikan sebagai niat baik, melainkan harus hadir dalam bentuk rencana yang terukur, bisa dievaluasi, dan berani dipertanggungjawabkan. Pasar, seperti halnya publik, membutuhkan kejelasan, bukan sekadar harapan.

    Lebih jauh, Pak Dahlan mengingatkan bahwa isu demutualisasi atau perubahan bentuk kelembagaan bukanlah tujuan akhir. “PT” atau “bukan PT” hanyalah wadah. Yang jauh lebih penting adalah isi di dalamnya: budaya kerja, kualitas kepemimpinan, dan keberanian mengambil keputusan strategis. Ancaman penurunan peringkat pasar modal Indonesia di mata global bukan sekadar persoalan teknis, melainkan alarm bahwa ada pekerjaan rumah besar yang belum selesai. Jika tidak ditangani dengan serius, kita berisiko tertinggal dari negara lain yang lebih siap berbenah.

    Bagi saya pribadi, tulisan Pak Dahlan Iskan ini terasa seperti pengingat halus namun tegas bahwa perubahan tidak boleh berhenti pada struktur dan istilah. Reformasi sejati lahir dari kejelasan arah, keberanian bertindak, dan kesadaran bahwa waktu adalah faktor krusial. Dalam konteks apa pun—baik institusi negara, organisasi, maupun kehidupan personal—kita tidak cukup hanya berkata “akan dipercepat”. Kita perlu tahu: dipercepat ke mana, dengan cara apa, dan sampai kapan.

  • Catatan Santai tentang Dinamika Politik

    Membaca artikel “Gibran Capres” karya Pak Dahlan Iskan membuat saya berpikir bahwa politik Indonesia sering kali bergerak bukan hanya oleh rencana besar yang matang, tetapi juga oleh momentum dan dinamika yang kadang sulit ditebak. Gibran Rakabuming Raka, yang selama ini lebih dikenal sebagai sosok pendamping dalam peta politik nasional, dalam tulisan tersebut digambarkan memiliki potensi besar jika suatu saat benar-benar tampil sebagai kandidat utama. Bagi saya, ini menarik karena menunjukkan bahwa politik bukan sekadar soal pengalaman panjang atau senioritas, melainkan juga soal persepsi publik, popularitas, dan posisi tawar di waktu yang tepat. Figur Gibran, dengan latar belakang usia yang relatif muda dan nama besar yang melekat, bisa menjadi simbol perubahan bagi sebagian masyarakat, terutama mereka yang menginginkan wajah baru dalam kepemimpinan nasional. Namun di sisi lain, popularitas saja tentu tidak cukup; politik tetap membutuhkan strategi, dukungan partai, serta kemampuan membuktikan diri di hadapan publik yang kini semakin kritis. Tulisan tersebut seolah mengingatkan bahwa dalam politik, seseorang yang awalnya diposisikan sebagai pelengkap bisa saja berubah menjadi pusat perhatian, tergantung bagaimana situasi berkembang dan keputusan diambil. Dari sudut pandang saya sebagai pembaca biasa, fenomena ini terasa seperti cermin kehidupan sehari-hari: rencana bisa berubah, peran bisa bergeser, dan yang awalnya tidak diperhitungkan justru menjadi kemungkinan yang paling dibicarakan. Pada akhirnya, wacana Gibran sebagai capres bukan hanya soal satu nama, tetapi juga tentang bagaimana politik Indonesia terus bergerak dinamis, penuh kejutan, dan menuntut kita sebagai masyarakat untuk tetap berpikir kritis serta tidak menelan isu begitu saja.

  • Jam Tujuh di Tengah Banjir

    Pagi ini hujan turun tanpa kompromi. Deras, terus-menerus, dan bikin jalanan berubah jadi sungai dadakan. Banjir ada di mana-mana. Notifikasi dari HRD pun masuk: ada toleransi keterlambatan sampai jam 12.00, dari yang biasanya jam 08.00. Kebijakan yang sangat masuk akal di kondisi seperti ini. Meski begitu, aku tetap memutuskan berangkat seperti hari biasa. Alasannya sederhana tapi krusial: jam 7 pagi adalah satu-satunya waktu aku bisa dapat akses kendaraan. Aku berangkat bersama ibuku, searah dengan tujuan beliau ke Stasiun Bekasi. Kalau melewatkan jam itu, pilihanku tinggal satu—ojek online, yang jujur saja masih belum ramah untuk m-banking seorang karyawan baru. Jadi, jam 7 pagi aku keluar rumah, di tengah hujan yang masih mengguyur tanpa ampun.

    Di jalan, suasananya riuh. Klakson bersahut-sahutan, air cokelat mengalir deras, mobil dan truk melintas menimbulkan ombak kecil yang cukup bikin deg-degan. Sepanjang perjalanan, pikiranku nggak cuma fokus ke arah depan, tapi juga ke ibuku yang mengendarai motor. Ada rasa khawatir kalau beliau harus melewati genangan dan “ombak” banjir saat kendaraan besar melintas. Dalam hati cuma bisa berharap semuanya baik-baik saja.Sampai di kantor, suasananya… sepi. Ternyata memang banyak karyawan memilih aman dan stay WFH dulu. Keputusan yang sangat bisa dipahami. Di kantor hari ini hanya ada tiga orang, dan aku salah satunya. Rasanya agak aneh. Kantor yang biasanya ramai jadi sunyi. Tapi di situ juga ada rasa syukur kecil: bisa sampai dengan selamat, tetap menjalani hari, dan belajar bahwa setiap orang punya cerita dan pertimbangannya sendiri saat menghadapi kondisi yang nggak ideal.

    Hari ini mengajarkanku satu hal sederhana:
    bertahan bukan soal memaksa, tapi soal menyesuaikan. Semoga hujan segera reda, banjir surut, dan semua orang—terutama yang kita sayangi—selalu dalam keadaan aman. 🌧️🤍

  • Hari Ini, Aku Belajar Lagi Tentang Menjadi Sales

    Hari ini aku menjalani rutinitas yang baru sebagai sales yaitu berkunjung ke perusahaan klien. Agendanya adalah membahas support preventive maintenance Zimbra, namun seperti banyak hari lainnya, yang paling membekas justru bukan soal pembahasan itu sendiri, melainkan pengalaman aku sebagai seorang sales.

    Setiap kali masuk ke lingkungan klien, rasanya seperti masuk ke dunia yang berbeda. Cara mereka menyambut, suasana kantor, hingga ritme kerja yang terasa dari percakapan singkat, semuanya memberi kesan tersendiri. Di momen seperti ini aku kembali diingatkan bahwa peran sales bukan hanya datang membawa penawaran, tetapi hadir sebagai seseorang yang mau mendengar. Kadang, klien tidak membutuhkan penjelasan panjang, mereka hanya ingin merasa ditemani dan diyakinkan bahwa ada orang yang bisa diandalkan.

    Dalam pertemuan hari ini, aku berusaha menahan diri untuk tidak terburu-buru. Aku memilih untuk lebih banyak mendengar, membangun obrolan, dan memahami sudut pandang mereka. Dari situ aku semakin sadar bahwa menjual itu tidak selalu harus terlihat seperti menjual. Kepercayaan tidak muncul dari kata-kata yang rapi, tapi dari sikap yang tulus dan kehadiran yang konsisten.

    Perjalanan hari ini belum selesai ketika meeting berakhir. Di jalan pulang, aku dihadapkan pada kenyataan klasik: macet total. Yang membuatku cukup terkejut, aku sempat berpikir bahwa setelah banyak pekerja beralih menggunakan KRL, jalanan akan terasa lebih lengang. Ternyata tidak. Masih begitu banyak pekerja yang bertahan di jalan raya, dengan motor dan mobil, terjebak di kemacetan yang sama, di waktu yang sama.

    Di tengah jalan yang padat dan pergerakan yang lambat, aku sempat merenung. Setiap orang yang ada di jalan ini pasti sedang berjuang dengan caranya masing-masing. Ada yang lelah secara fisik, ada yang pikirannya penuh, ada juga yang sedang menahan penat demi tanggung jawab yang tidak selalu terlihat. Aku pun salah satunya.

    Berpindah dari satu tempat ke tempat lain, menyesuaikan diri dengan banyak karakter, menjaga sikap tetap profesional di berbagai kondisi. Tapi hari ini, di balik rasa capek itu, ada perasaan bangga yang pelan-pelan tumbuh. Bukan karena hasil akhir atau angka, melainkan karena aku tahu aku sudah menjalani peranku sebaik mungkin: datang, mendengar, dan berusaha memberi rasa aman.

  • Sedikit Flu, Banyak Macet

    Hari ini tuh salah satu hari yang rasanya pengen dilewatin sambil setengah merem. Bangun tidur badan udah kasih tanda-tanda protes: tenggorokan nggak enak, hidung mulai mampet, kepala agak berat. Flu ringan sih, tapi cukup buat bikin mood jadi setengah-setengah. Di satu sisi pengen istirahat, di sisi lain ya tetap harus jalanin hari. Akhirnya bangun pelan-pelan, minum air hangat, dan nyiapin diri sambil ngeluh dikit ke diri sendiri. Keluar rumah dengan kondisi badan kayak gitu rasanya perjuangan kecil. Setiap langkah tuh kerasa lebih berat dari biasanya. Dan seperti sudah bisa ditebak, perjalanan hari ini nggak berjalan mulus. Macet panjang di sekitar rel kereta Stasiun Bekasi. Bukan macet biasa, tapi yang bikin kendaraan berhenti lama, maju dikit, berhenti lagi, begitu terus. Rasanya waktu jalan lebih cepat daripada kendaraan.

    Di tengah macet itu, flu jadi makin terasa. Kepala pusing pelan-pelan, badan pegal, dan pikiran mulai capek duluan. Suara klakson bersahutan, motor nyelip kanan kiri, panas, dan debu. Kadang aku cuma bisa diem, narik napas, dan nerima keadaan. Mau marah juga nggak ada gunanya, mau ngeluh ke siapa juga. Ya sudah, jalanin aja sambil berharap rel kereta segera dibuka. Badan lagi nggak fit, ketemu situasi yang ribet, semuanya numpuk.

    Sampai tujuan dengan sisa tenaga, rasanya lega tapi juga pengen langsung rebahan. Hari ini ngajarin satu hal sederhana: dengerin badan itu penting. Kadang kita terlalu maksa karena ngerasa harus selalu kuat. Padahal, ngaku capek dan ngasih waktu buat istirahat itu juga bentuk tanggung jawab ke diri sendiri. Malam ini aku cuma pengen minum obat, makan yang hangat, dan tidur lebih cepat. Nggak muluk-muluk. Semoga flu cepat reda, badan balik enak, dan besok jalanan lebih bersahabat. Hari ini biarlah jadi hari yang pelan, tapi tetap dijalani sampai selesai.

  • Rekening Bisa Hilang, Stres Menyusul

    Hari ini aku membaca tulisan Catatan Harian Pak Dahlan berjudul “Stres Debanking”, dan entah kenapa rasanya tidak bisa langsung dilupakan. Mungkin karena istilahnya terdengar teknis, tapi dampaknya sangat manusiawi: stres, cemas, dan rasa tidak berdaya. Debanking, kalau disederhanakan, adalah kondisi ketika bank memutuskan hubungan dengan nasabahnya. Bukan karena saldo nol, bukan karena pelanggaran yang jelas, tapi karena dianggap “berisiko”. Dalam tulisan itu, Pak Dahlan mengangkat kasus Donald Trump yang rekening dan fasilitas perbankannya ditutup oleh bank besar. Akibatnya, Trump menggugat. Ia merasa bukan sekadar kehilangan layanan bank, tapi kehilangan reputasi.

    Yang membuatku berhenti sejenak adalah ini:
    ternyata di dunia modern, punya atau tidaknya akses ke bank bisa menentukan eksistensi seseorang atau perusahaan. Tanpa bank, transaksi macet. Tanpa transaksi, bisnis lumpuh. Tanpa bisnis, reputasi ikut runtuh. Rantai sebab-akibatnya panjang, tapi dimulainya hanya dari satu keputusan sepihak. Tulisan ini terasa seperti pengingat halus bahwa sistem keuangan bukan hanya soal angka dan laporan. Ada kuasa besar yang bekerja diam-diam. Bank bisa memilih siapa yang “layak” dan siapa yang “berisiko”. Dan ketika label itu ditempelkan, efeknya menjalar ke mana-mana. Nasabah lain ikut menjauh. Institusi lain ikut waspada. Nama baik perlahan tergerus.

    Aku jadi berpikir, betapa rapuhnya posisi kita di hadapan sistem. Kita merasa aman selama semuanya normal. Tapi ketika satu pintu ditutup, baru terasa betapa tergantungnya kita pada struktur yang tidak kita kendalikan sepenuhnya. Tidak heran kalau Pak Dahlan menamai ini stres debanking—karena yang diserang bukan hanya dompet, tapi juga mental. Yang menarik, tulisan ini tidak terasa menggurui. Seperti biasa, Pak Dahlan menyampaikannya dengan gaya bercerita, seolah sedang mengobrol santai sambil menyelipkan isu besar dunia. Justru dari kesantaiannya itu, maknanya terasa lebih dalam. Kita diajak berpikir tanpa merasa digurui. Setelah membaca, aku pulang dengan satu kesadaran kecil: kepercayaan adalah mata uang paling mahal di dunia keuangan. Sekali hilang, tidak mudah dibeli kembali. Dan di tengah sistem yang makin ketat, transparansi dan komunikasi mungkin sama pentingnya dengan kekuatan modal itu sendiri.

  • Ketika Ngambek Jadi Cara Bertumbuh

    Sore menjelang pulang kerja aku membaca satu tulisan dari Pak Dahlan Iskan dengan judul Transformasi Ngambek. Judulnya saja sudah bikin senyum kecil—karena kata “ngambek” biasanya identik dengan hal remeh, kekanak-kanakan, dan sering kali dianggap tidak produktif. Tapi seperti biasa, tulisan ini justru mengajak berpikir lebih jauh: bagaimana kalau ngambek bukan sekadar emosi sesaat, melainkan awal dari sebuah perubahan besar?

    Ceritanya mengalir tentang seorang dokter yang punya gagasan berbeda soal keadilan. Ia ingin sistem honor dokter tidak lagi ditentukan oleh usia atau masa kerja, melainkan oleh peran dan kontribusi nyata. Ide itu terdengar masuk akal, tapi ternyata tidak mudah diterima. Ditolak. Mentah-mentah. Dan di titik itulah muncul reaksi yang sangat manusiawi: ngambek. Bukan ngambek yang dramatis, tapi cukup untuk membuat jarak, cukup untuk membuat diam, dan cukup untuk membuat banyak orang tidak lagi bekerja sepenuh hati.

    Yang menarik, dari situ justru lahir ruang dialog. Ngambek tidak berhenti sebagai sikap pasif, tapi berubah menjadi energi. Orang-orang mulai mendengar. Kompromi terjadi. Perubahan dijalankan. Sistem yang dulu dianggap mustahil justru membawa rumah sakit itu berkembang pesat. Pendapatan meningkat, kinerja membaik, dan keadilan yang diperjuangkan perlahan menemukan bentuknya.

    Namun hidup tidak pernah berhenti menguji. Ketika perubahan itu berhasil, justru muncul badai lain: tuduhan, kecurigaan, dan prasangka. Di titik ini, sang tokoh kembali memilih diam. Sekilas terlihat seperti menghindar, tapi sebenarnya ia memberi ruang bagi fakta untuk bicara. Semua dibuka, semua diperiksa, dan akhirnya tuduhan itu runtuh dengan sendirinya.

    Membaca kisah ini membuatku berhenti sejenak dari rutinitas. Aku jadi berpikir tentang diri sendiri. Tentang momen-momen kecil ketika aku merasa kesal, tidak didengar, atau kecewa. Selama ini aku menganggap ngambek sebagai sesuatu yang harus segera dihindari. Tapi dari cerita ini, aku belajar satu hal sederhana: ngambek itu manusiawi. Yang berbahaya bukan perasaannya, tapi kalau kita kehilangan arah setelahnya.

    Ngambek bisa jadi jeda. Bisa jadi alarm. Bisa jadi tanda bahwa ada nilai yang sedang kita jaga. Selama setelahnya kita tetap melangkah, tetap berpikir jernih, dan tetap berpegang pada tujuan baik, maka ngambek bukan akhir—melainkan awal dari transformasi.

    Hari ini aku menutup bacaan itu dengan senyum kecil dan satu catatan di kepala: tidak apa-apa merasa kesal, asal jangan berhenti bertumbuh.

  • Berangkat Kehujanan, Pulangnya Kenyang Soto

    Hari ini bahkan belum benar-benar dimulai, tapi hujan sudah turun dengan sangat deras sejak pagi. Dari rumah, suara hujan langsung terasa berat, seperti tidak ada jeda sama sekali. Jalanan di depan rumah sudah basah, dan air mulai mengalir ke mana-mana. Saat berangkat, baru beberapa meter jalan sudah terlihat genangan. Beberapa titik yang biasanya aman ternyata sudah banjir. Mau tidak mau, perjalanan harus ekstra pelan. Air menutup jalan, bikin susah membedakan mana jalan rata dan mana yang berlubang. Pandangan juga terbatas karena hujan masih turun cukup kencang.

    Naik motor di kondisi seperti ini benar-benar serba salah. Kalau terlalu pelan, motor gampang goyang karena air. Tapi kalau sedikit nambah kecepatan, cipratan air justru makin parah. Setiap kali ada motor atau mobil lewat lebih cepat, air langsung muncrat dan mengenai badan. Celana, sepatu, dan bagian bawah jaket sudah basah semua, meskipun dari awal sudah siap hujan. Di beberapa ruas jalan, banjir bikin arus kendaraan melambat. Ada yang berhenti ragu-ragu, ada juga yang nekat nerobos genangan. Aku sendiri memilih ikut pelan-pelan, daripada kenapa-kenapa. Pagi ini bukan soal cepat sampai, tapi soal sampai dengan aman.

    Perjalanan jadi terasa lebih lama dan lebih melelahkan. Padahal jam masih pagi, tapi badan sudah basah dan sedikit capek. Sampai tujuan, hal pertama yang terpikir bukan langsung kerja, tapi bagaimana mengeringkan diri dan menenangkan napas sebentar. Hari ini tidak dimulai dengan nyaman. Hujan deras, banjir di mana-mana, badan basah karena cipratan air di jalan. Tapi mau tidak mau, aktivitas tetap berjalan. Pagi ini mengingatkan lagi bahwa rutinitas sehari-hari sering kali harus berhadapan langsung dengan kondisi yang tidak ideal, dan yang bisa dilakukan hanyalah menyesuaikan diri.

    Di tengah hujan yang belum juga reda, makan soto Bu Fitra jadi bagian paling “menghibur” hari ini. Setelah pagi yang basah, jalanan banjir, dan badan capek karena hujan deras, duduk dan makan soto hangat terasa seperti hadiah kecil. Kami memesan menu yang sama. Soto segar khas Klaten, kuahnya bening dan ringan, tapi rasanya pas. Tidak terlalu berat, tapi cukup bikin badan terasa hangat. Dimakan pelan-pelan, uapnya naik, rasanya cocok sekali dengan kondisi cuaca hari ini.

    Yang bikin makin nikmat, harganya benar-benar bersahabat. Dengan harga yang sangat amat murah, satu porsi soto sudah bikin kenyang. Ditambah gorengan serba seribu—tempe, tahu, bakwan—yang masih hangat, lalu satean serba Rp2.500 yang sederhana tapi cukup buat pelengkap. Tidak ada yang mewah dari makan siang ini, tapi justru di situ letak nikmatnya. Di saat hujan terus turun tanpa jeda, soto Bu Fitra jadi penghangat badan.