Ketika Rasa Aman Itu Terasa Mahal: Suara Hati Seorang Perempuan

https://www.istockphoto.com/id/ilustrasi/hijabi-woman

Belakangan ini, setiap kali saya membaca berita tentang kekerasan terhadap perempuan, dada saya terasa sesak. Salah satunya adalah kasus pembacokan mahasiswi di kampus UIN Suska Riau yang diberitakan diberbagai media, yang seharusnya menjadi tempat belajar, bertumbuh, dan mengejar mimpi, tiba-tiba berubah menjadi ruang yang menakutkan. Tempat yang mestinya aman justru menjadi lokasi terjadinya kekerasan.

Sebagai seorang perempuan, saya tidak bisa membaca berita seperti itu dengan perasaan datar. Ada rasa takut yang ikut tumbuh. Bukan hanya karena peristiwanya, tetapi karena kesadaran bahwa hal serupa bisa terjadi di mana saja—di kampus, di tempat kerja, di jalanan, bahkan di ruang yang kita anggap paling familiar sekalipun.

Sejak kecil, perempuan sering diajarkan untuk berhati-hati. Jangan pulang terlalu malam. Jangan sendirian. Jangan terlalu ramah. Jangan terlalu tegas. Jangan menolak dengan cara yang membuat orang tersinggung. Tanpa sadar, kami tumbuh dengan daftar panjang kewaspadaan. Kami belajar membaca situasi, memperhatikan sekitar, menggenggam kunci di sela-sela jari saat berjalan sendirian, membagikan lokasi secara real-time kepada teman. Semua itu dilakukan bukan karena ingin hidup dalam ketakutan, tetapi karena ingin selamat.

Namun saya mulai bertanya: sampai kapan kewaspadaan hanya dibebankan kepada perempuan?

Mengapa sejak kecil yang lebih sering diingatkan adalah anak perempuan untuk menjaga diri, sementara anak laki-laki jarang sekali diberi edukasi tegas tentang menghargai batasan, mengelola emosi, dan menerima penolakan? Mengapa kita begitu fokus pada cara perempuan berpakaian, berjalan, atau bersikap, tetapi tidak sekeras itu mengajarkan laki-laki bahwa kekerasan bukanlah bentuk keberanian, dan penolakan bukanlah penghinaan?

Kekerasan tidak lahir begitu saja. Ia tumbuh dari pola pikir yang salah, dari budaya yang permisif, dari candaan yang merendahkan perempuan yang dianggap biasa, dari sikap posesif yang dianggap tanda cinta. Jika kita ingin perubahan nyata, maka edukasi harus dimulai sejak dini—bukan hanya tentang bagaimana perempuan melindungi diri, tetapi bagaimana laki-laki belajar menghormati.

Anak laki-laki perlu diajarkan bahwa:
bahwa perempuan bukan objek,
bahwa “tidak” berarti tidak,
bahwa emosi marah tidak boleh dilampiaskan dengan kekerasan,
bahwa harga diri tidak runtuh hanya karena ditolak,
dan bahwa menjadi laki-laki bukan berarti dominan, melainkan bertanggung jawab.

Edukasi ini tidak cukup hanya diselipkan. Ia harus tegas, konsisten, dan menjadi bagian dari kurikulum keluarga, sekolah, dan lingkungan sosial. Orang tua punya peran besar. Guru punya tanggung jawab moral. Institusi pendidikan harus berani bersikap. Kampus tidak hanya tempat mencetak sarjana, tetapi juga tempat membentuk karakter.

Kekerasan bukan hanya soal luka fisik. Ada trauma yang membekas, rasa aman yang hilang, dan kepercayaan terhadap lingkungan yang runtuh. Seorang korban mungkin bisa sembuh secara fisik, tetapi untuk kembali merasa aman, itu perjalanan yang panjang. Dan sebagai perempuan lain yang membaca beritanya, saya pun ikut merasakan getaran cemas itu. Seolah ada pesan tak terlihat yang mengatakan: kamu juga bisa menjadi berikutnya.

Saya menulis ini bukan untuk menyebarkan ketakutan, tetapi untuk mengingatkan bahwa solusi tidak bisa satu arah. Tidak adil jika perempuan terus dibebani kewaspadaan sementara akar persoalan tidak disentuh. Rasa aman tidak akan tercipta hanya dengan menyuruh perempuan lebih hati-hati. Rasa aman tercipta ketika laki-laki dididik untuk tidak menyakiti.

Sebagai perempuan, saya tidak meminta perlakuan istimewa. Saya hanya ingin hak dasar untuk merasa aman tanpa harus hidup dalam kewaspadaan yang melelahkan. Saya ingin dunia di mana anak perempuan tidak tumbuh dengan daftar panjang larangan, dan anak laki-laki tumbuh dengan pemahaman kuat tentang empati dan tanggung jawab.

Karena rasa aman bukanlah kemewahan. Itu hak setiap manusia. Dan perubahan hanya akan terjadi ketika kita berhenti menyalahkan korban dan mulai mendidik generasi dengan lebih adil.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *