Ketika aku membaca tulisan Pak Dahlan tentang fenomena WNI–WNI di Disway.id, aku langsung ngerasa ini bukan sekadar cerita biasa. Pak Dahlan nulis dengan jujur, tanpa mau sok pintar, tapi justru ngasih kita ruang buat mikir lebih dalam soal cinta tanah air, kebanggaan keluarga, dan hubungan kita dengan Indonesia.
Menurut Pak Dahlan, apa yang dilakukan Dwi Sasetyaningtyas — yang sempat bikin heboh karena sikapnya terhadap Indonesia — bisa dipahami lebih dari satu sisi. Dia bilang percaya bahwa Dwi tetap cinta Indonesia, bahkan mungkin sikapnya yang “seperti merendahkan Indonesia” itu justru lahir dari rasa cintanya yang dalam terhadap tanah kelahirannya. Kalimat ini membuat aku mikir: sering kali emosi kita terhadap negara itu muncul bukan karena benci, tapi justru karena kita terlalu berharap akan masa depan yang lebih baik.
Pak Dahlan juga ngasih contoh ayah-ibu yang bangga setengah mati pada anak-anaknya. Contohnya menantu beliau yang naik sepeda 1.500 km demi sayang pada suami, atau cucu yang juara debat internasional di Amerika. Itu semua ngingetin kita bahwa sebagai orang tua, kita sering meletakkan harapan besar pada prestasi anak — dan itu manusiawi banget.
Tapi kemudian, Pak Dahlan bawa kita ke satu dilema yang menurut aku penting banget: tentang WNI yang lahir di luar negeri dan punya pilihan kewarganegaraan. Ketika anak itu punya pilihan antara jadi WNI atau jadi warga negara Inggris, itu bukan sekadar pilihan administratif, tapi tentang masa depan yang bisa jadi sangat berbeda. Dia paham kenapa orang tua bisa bangga banget sampe ingin anaknya pilih negara maju. Itu bukan hal aneh — banyak orang tua yang berpikir seperti itu demi masa depan anaknya.
Tapi inilah yang menurutku poin penting dari tulisan Pak Dahlan: jangan langsung menghakimi seseorang hanya karena pilihannya berbeda dari kita. Terkadang cara dia nunjukin kebanggaan atau rasa cintanya pada Indonesia itu memang kelihatan aneh atau bahkan menyakitkan buat orang lain. Tapi kita harus ingat, setiap orang punya cara sendiri-sendiri buat nunjukin cinta pada tanah air — dan itu nggak mesti selalu sama.
Lalu yang paling menarik, Pak Dahlan nulis bahwa kita sebagai bangsa jangan sampai kehilangan rasa bangga terhadap anak bangsa yang berkiprah di luar negeri. Mereka yang tinggal di negara lain, yang jadi warga negara lain, bukan berarti mereka benci Indonesia. Justru bisa jadi mereka adalah jaringan Indonesia di luar negeri yang suatu hari bisa bantu negaranya dari tempat yang jauh. Ide ini sederhana tapi powerful: asset bangsa nggak cuma di dalam negeri, tapi juga di luar sana.
Saat aku mikir soal tulisan ini, aku merasa bahwa sudut pandang Pak Dahlan ngajarin kita buat nggak cepat marah atau nge-judge orang lain berdasarkan satu tindakan atau ucapan saja. Kadang kita lupa bahwa setiap keputusan manusia punya alasan rumit di belakangnya. Dan dalam konteks kebangsaan, cinta kita pada negara itu bisa muncul dalam bentuk yang berbeda-beda juga — dan itu nggak boleh membuat kita jadi gampang ngecap seseorang “tidak cinta tanah air”.
Leave a Reply