Pagi ini hujan turun tanpa kompromi. Deras, terus-menerus, dan bikin jalanan berubah jadi sungai dadakan. Banjir ada di mana-mana. Notifikasi dari HRD pun masuk: ada toleransi keterlambatan sampai jam 12.00, dari yang biasanya jam 08.00. Kebijakan yang sangat masuk akal di kondisi seperti ini. Meski begitu, aku tetap memutuskan berangkat seperti hari biasa. Alasannya sederhana tapi krusial: jam 7 pagi adalah satu-satunya waktu aku bisa dapat akses kendaraan. Aku berangkat bersama ibuku, searah dengan tujuan beliau ke Stasiun Bekasi. Kalau melewatkan jam itu, pilihanku tinggal satu—ojek online, yang jujur saja masih belum ramah untuk m-banking seorang karyawan baru. Jadi, jam 7 pagi aku keluar rumah, di tengah hujan yang masih mengguyur tanpa ampun.
Di jalan, suasananya riuh. Klakson bersahut-sahutan, air cokelat mengalir deras, mobil dan truk melintas menimbulkan ombak kecil yang cukup bikin deg-degan. Sepanjang perjalanan, pikiranku nggak cuma fokus ke arah depan, tapi juga ke ibuku yang mengendarai motor. Ada rasa khawatir kalau beliau harus melewati genangan dan “ombak” banjir saat kendaraan besar melintas. Dalam hati cuma bisa berharap semuanya baik-baik saja.Sampai di kantor, suasananya… sepi. Ternyata memang banyak karyawan memilih aman dan stay WFH dulu. Keputusan yang sangat bisa dipahami. Di kantor hari ini hanya ada tiga orang, dan aku salah satunya. Rasanya agak aneh. Kantor yang biasanya ramai jadi sunyi. Tapi di situ juga ada rasa syukur kecil: bisa sampai dengan selamat, tetap menjalani hari, dan belajar bahwa setiap orang punya cerita dan pertimbangannya sendiri saat menghadapi kondisi yang nggak ideal.
Hari ini mengajarkanku satu hal sederhana:
bertahan bukan soal memaksa, tapi soal menyesuaikan. Semoga hujan segera reda, banjir surut, dan semua orang—terutama yang kita sayangi—selalu dalam keadaan aman. 🌧️🤍
Leave a Reply