Tetap masak

Biasanya saat bangun pagi, aku selalu menyiapkan bahan makanan untuk dimasak ibuku. Kusiapkan sayuran menjadi potongan yang siap dimasak saat ibuku bangun tidur. Yap urutannya adalah aku yang bangun pertama kali, ibuku, adikku, lalu bapak. Tapi pagi ini aku tidak debag debug mempersiapkan pisau dan talenan untuk memotong sayuran, karena ternyata ibuku tidak belanja semalam. Memang beberapa kali ibu tidak mood masak karena sudah terlalu lelah setiap hari menempuh perjalanan untuk kerja dari Bekasi ke Kota Tua selama 2 jam. Belum lagi ditambah lalu lintas jabodetabek di musim hujan ini. Setiap tidak masak, ibuku selalu membeli sayur dan lauk matang di warung, mulai yang berwarna hijau, berlemak, berasa pedas kuat. Tapi niat ibuku tidak masak pagi ini gagal karena tiba-tiba turun hujan lebat selepas subuh. Ku gali kontainer dalam kulkas, masihkah tersimpan bahan makanan yang belum sempat dimasak dan hampir busuk jika tidak diolah dalam beberapa minggu lagi.. Begitulah isi kulkas dari rumah yang penghuninya memiliki aktivitas setiap hari, rumah yang kosong saat teriknya siang menerpa.

Ternyata dalam kontainer kulkas masih ada sayur oyong yang diberikan tetangga sebagai oleh-oleh selepas pulang kampung dari Purbalingga. Sejujurnya selama ini aku dan ibu hanya pernah memasak oyong menjadi sop bihun oyong saja. Sayur yang hanya dimasak jika weekend saja haha karena jika weekday rasanya ribet bagi kita untuk membawa bekal yang berkuah. Menggeledah kembali isi kulkas, ternyata tidak ada bihun yang ada tahu kulit 5 sampai 7 pcs. Karena diluar masih hujan deras, tidak memungkinkan untuk membeli lauk dan sayur, jadinya aku dan ibu berpandangan dengan tatapan ibu mengartikan bisa pake jas ujan beli sayur matang saja dan tatapanku mengartikan aku potong saja langsung oyong, bawang, dan cabe ini, agar langsung aku masak. Dan akhirnya pagi ini rutinitas memasak tetap terjadi, dengan menu oseng oyong campur tahu dan nugget ayam goreng. Sebagai anak manajemen hihi, memasak juga menjadi bahan perhitungan, jika membeli bisa habis 50.000-an, sedangkan jika memasak dengan bahan yang didapatkan gratis akan jauh lebih murah. Ternyata oseng oyong ini enak saja seperti oseng pada umunya, malah memasaknya tidak membutuhkan waktu yang lama karena oyong pada dasarnya mudah lunak. Dan benar saja, oseng oyong yang aku masak langsung habis untuk sarapan bapak, adik, dan lauk bekal 4 tempat. Hmm kuselamatkan beberapa rupiah hari ini karena tidak jadi membeli lauk matang hehe

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *