Category: Uncategorized

  • Ketika Neraka Tak Lagi Menakutkan bagi Para Pemegang Amanah

    Hari ini saya membaca artikel Catatan Harian Dahlan berjudul “Pati Madiun” di Disway dan pikiran saya langsung dipenuhi kegelisahan yang sulit dijelaskan. Indonesia adalah negara dengan mayoritas penduduk beragama Islam, sebuah agama yang sejak awal menempatkan kejujuran, amanah, dan tanggung jawab moral sebagai nilai utama. Kejujuran sejatinya adalah nilai universal, tidak terbatas pada agama tertentu, tetapi ketika nilai ini terus-menerus diabaikan oleh para pejabat yang memegang amanah rakyat, muncul pertanyaan besar tentang ke mana perginya hati nurani. Kasus korupsi yang silih berganti, seperti yang diceritakan dalam artikel tersebut, seolah menampilkan potret kehidupan palsu: kekuasaan, jabatan, dan kekayaan dikejar tanpa rasa takut akan dosa, tanpa rasa malu kepada publik, bahkan tanpa bayangan tentang neraka setelah kehidupan dunia yang sementara ini berakhir.

    Yang lebih mengkhawatirkan, maraknya berita korupsi hari ini sangat mudah diakses oleh semua kalangan usia. Anak-anak tumbuh dalam lingkungan informasi yang memperlihatkan bahwa kebohongan, manipulasi, dan pengambilan yang bukan haknya adalah sesuatu yang “biasa” dilakukan orang dewasa, bahkan oleh mereka yang disebut pemimpin. Tanpa kita sadari, normalisasi korupsi ini merembes ke perilaku sehari-hari dalam bentuk yang kecil dan sering dianggap sepele. Anak yang tidak mengembalikan kembalian belanjaan ibunya, berbohong demi uang jajan tambahan, atau memanipulasi cerita agar lolos dari hukuman, sesungguhnya sedang mempelajari pola yang sama—gejala awal korupsi dalam skala kecil. Jika hal-hal kecil ini dibiarkan, maka tidak mengherankan ketika kelak mereka dewasa, nilai kejujuran terasa asing dan amanah tidak lagi memiliki makna.

    Artikel Pati Madiun tidak hanya bicara tentang kepala daerah yang terjaring kasus hukum, tetapi juga mengingatkan bahwa korupsi adalah persoalan budaya dan moral yang diwariskan secara diam-diam melalui contoh, bukan sekadar nasihat. Ketika kejahatan dilakukan berulang dan terus diberitakan tanpa rasa malu dari para pelakunya, masyarakat perlahan menjadi kebal. Pada titik inilah agama, pendidikan, dan keluarga seharusnya kembali mengambil peran penting, bukan hanya mengajarkan mana yang benar dan salah, tetapi juga menanamkan rasa takut berbuat curang meski tidak ada yang melihat. Membaca artikel ini membuat saya sampai pada satu kesimpulan pahit: korupsi besar yang kita kecam hari ini berawal dari kejujuran kecil yang dulu kita abaikan.

  • Tetap masak

    Biasanya saat bangun pagi, aku selalu menyiapkan bahan makanan untuk dimasak ibuku. Kusiapkan sayuran menjadi potongan yang siap dimasak saat ibuku bangun tidur. Yap urutannya adalah aku yang bangun pertama kali, ibuku, adikku, lalu bapak. Tapi pagi ini aku tidak debag debug mempersiapkan pisau dan talenan untuk memotong sayuran, karena ternyata ibuku tidak belanja semalam. Memang beberapa kali ibu tidak mood masak karena sudah terlalu lelah setiap hari menempuh perjalanan untuk kerja dari Bekasi ke Kota Tua selama 2 jam. Belum lagi ditambah lalu lintas jabodetabek di musim hujan ini. Setiap tidak masak, ibuku selalu membeli sayur dan lauk matang di warung, mulai yang berwarna hijau, berlemak, berasa pedas kuat. Tapi niat ibuku tidak masak pagi ini gagal karena tiba-tiba turun hujan lebat selepas subuh. Ku gali kontainer dalam kulkas, masihkah tersimpan bahan makanan yang belum sempat dimasak dan hampir busuk jika tidak diolah dalam beberapa minggu lagi.. Begitulah isi kulkas dari rumah yang penghuninya memiliki aktivitas setiap hari, rumah yang kosong saat teriknya siang menerpa.

    Ternyata dalam kontainer kulkas masih ada sayur oyong yang diberikan tetangga sebagai oleh-oleh selepas pulang kampung dari Purbalingga. Sejujurnya selama ini aku dan ibu hanya pernah memasak oyong menjadi sop bihun oyong saja. Sayur yang hanya dimasak jika weekend saja haha karena jika weekday rasanya ribet bagi kita untuk membawa bekal yang berkuah. Menggeledah kembali isi kulkas, ternyata tidak ada bihun yang ada tahu kulit 5 sampai 7 pcs. Karena diluar masih hujan deras, tidak memungkinkan untuk membeli lauk dan sayur, jadinya aku dan ibu berpandangan dengan tatapan ibu mengartikan bisa pake jas ujan beli sayur matang saja dan tatapanku mengartikan aku potong saja langsung oyong, bawang, dan cabe ini, agar langsung aku masak. Dan akhirnya pagi ini rutinitas memasak tetap terjadi, dengan menu oseng oyong campur tahu dan nugget ayam goreng. Sebagai anak manajemen hihi, memasak juga menjadi bahan perhitungan, jika membeli bisa habis 50.000-an, sedangkan jika memasak dengan bahan yang didapatkan gratis akan jauh lebih murah. Ternyata oseng oyong ini enak saja seperti oseng pada umunya, malah memasaknya tidak membutuhkan waktu yang lama karena oyong pada dasarnya mudah lunak. Dan benar saja, oseng oyong yang aku masak langsung habis untuk sarapan bapak, adik, dan lauk bekal 4 tempat. Hmm kuselamatkan beberapa rupiah hari ini karena tidak jadi membeli lauk matang hehe

  • Begitukah semuanya(?)

    Kenapa hari ini dinobatkan sebagai hari tersibuk? Ketika semua orang sensi jika mendengar hari ini, yap Hari Senin.

    Hari dimana jika disebut saat weekend akan membuat mata tersipit dan otomatis bombastic side eye. Sebenarnya tidak ada yang beda dengan hari lainnya, tapi masih membingungkan darimana asalnya hari ini seketika lalu lintas bagai jet ingin menembus langit, segalanya terdengar di hari ini mulai teriakan ibu yang membangunkan anaknya sekolah, omelan ibu yang melihat ayah memecahkan gelas kopinya, klakson di jalanan lampu merah, dan pertolongan anak mencari dimana kaos kaki sebelahnya. Hal tersebut sama yang terjadi dirumahku pagi ini. Adik ku diomeli ibu karena menghabiskan 30 menit di kamar mandi, padahal yang ingin mandi masih ada 3 orang lagi. Lega melihat dia keluar karena giliranku yang mandi. Tapi perut mules bapak yang meraung membuka langkah kakinya secepat kilat masuk menyalipku yang sedang mengambil handuk. Lagi-lagi haru menunggu laki-laki yang berada di kamar mandi. Kali ini bukan ibuku yang teriak, tapi aku yang sudah gregetan. Sudah dibilang pagi-pagi jangan makan sambal, bapaku ngeyel tetap makan sambal.

    Kutunggu keluarnya bapak smabil menyiapkan bekal sekeluarga. Lama sekali beliau keluar mungkin bisa sambil kubaca novel berlembar-lembar. Setelah bapa keluar, aku masuk kamar mandi dnegan muka jengkel habisnya lama bangettt. Bermenit-menit aku mandi saat selesai dan keluar bapaku berkata “Lah udah, cepet banget mandinya” Gimana tidak ngebut mandi, jam sudah menunjukkan pukul 06.45 dimana 15 menit lagi jadwal ku harus berangkat kerja. Kujawab dengan “iyaa dah mau telat” beliau hanya “hehehe” huft bapaku ini. Ntah adik laki-lakiku ataupun bapakku menghabiskan waktu untuk membangun tol di kamar mandi. Begitukah semua laki-laki(?) selalu menghabiskan banyak waktu saat di kamar mandi

  • Habit Tak Tertulis di Hari Kamis

    Yap sudah bisa dilihat ya dari judul hari ini hari apa, Hari Kamis. Habit? Kebiasaan hari hari ku adalah membawa bekal, disamping rencana untuk berhemat, dikeluargaku memang terbiasa untuk membawa bekal sedari dulu dan jarang untuk jajan jika weekday. Mungkin beberapa tanggapan hal tersebut bisa dibilang iri banget sampe segitunya, sebetulnya arah membawa bekal sehari hari karena dari kami masing masing sering kelepasan ngga enak badan karena beli makanan diluar. Bapak aku memiliki alergi yang kulitnya akan bereaksi gatal sekali, reaksi tersebut muncul jika mengonsumsi telur, ikan, seafood apalagi, dan jika ada masakan yang dimasak menggunakan minyak ataupun peralatan bekas bahan bahan tersebut pun juga bisa membuat gatal. Itu sebabnya akan lebih aman kalau bapak membawa bekal dari rumah. Kemudian adikku, dia memang anaknya ngga suka jajan, tepatnya malas untuk memesan makanan, makannya dia membawa bekal yang nilai plusnya adalah porsi sangat amat banyak sekali. Kemudian aku dan ibu ku yang memiliki riwayat asam lambung, harus berhati hati dengan pola makan, terkhusus aku yang pernah tidak sadarkan diri setelah makan nasi padang, sejak saat itu setiap aku makan nasi padang aku selalu sesak napas dan muntah. Bye nasi padang 🙁

    Di kantor untuk hari Kamis, beberapa karyawan tidak membawa bekal karena terdapat ketentuan tidak tertulis untuk membeli menu ayam cabai ijo hihi. Awalnya aku kira hanya hari jum’at saja terdapat ketentuan untuk tidaka membawa bekal, ternyata hari Kamis pun kita bisa memesan menu yang sama, lebih seringnya adalah ayam cabai ijo. Memang ini tidak bisa dikatakan peraturan karena sifatnya fleksibel, tapi dengan habit tidak tertulis tidak bertuan ini bisa membuat bonding antar sesama rekan kerja. Dan hari Kamis ini kita juga minum kopi serentak karena dibelikan oleh rekan kerja yang berulang tahun selamat ulang tahunnn buuu, berkah selalu rezekinyaaa<3

    Aku sangat suka kopi, mungkin dipekerjaan aku sebelumnya hampir setiap hari aku minum kopi, dan itu alasan aku lebih menghindari dan menahan nafsu makan nasi padang hehe. Tapi beberapa hari aku kontrol minum kopi karena saat malam terkadang suka sesak napas tiba tiba, daripada merepotkan dan kenapa napa aku menahan godaan kafein itu huft..

  • Ketika memberanikan diri masuk dunia IT

    Sumber: Google Play (diakses pada 14/01/2026)

    Haii, kembali lagi bersama aku, seorang agribisnis yang belajar marketing IT. Beberapa hari lalu aku menyinggung soal Promox, bingung yaa apa itu proxmox aku pun bingung saat awal-awal yaa sekarang masih sih sedikit bingung hehe Jadi proxmox adalah virtualisasi server yang dapat digunakan untuk mendukung dibukanya beberapa server dalam satu server fisik. Saat awal aku mendengar beberapa kata asing yaitu simbra, proxmox, dan lainnya. Hari ini aku mendengar dan belajar tentang satu hal baru yaitu SSL.

    Dibalik overthingking nya aku terjun ke dunia IT, ada yang yang aku syukuri adalah aku dibagian sales & business development yang tidak terlalu perlu untuk mengetahui kerja teknis real IT nyaa. Selain itu, aku dibimbing dan diarahkan secara bertahap dalam mengerjakan jobdesc sehingga aku tidak kalut ketakutan dengan kalimat bayangan “Marketing IT harus paham produk nya ke seluk beluk”. Perlahan aku dijelaskan apa yang harus ku lakukan sebagai sales & business development berbagai layanan perusahaan. Hari ini aku belajar untuk membuat penawaran salah satu layanannya yaitu SSL Certificate melalui aplikasi Zoho. Memang aku baru pertama kali mendengar dan menggunakan aplikasi tersebut, “kenapa takut juga make aplikasi asing itu?!” ngga nggaa, hmm aku ngga selalu overthingkng yahhh, Jujur dengan mentor yang membimbing aku dalam pekerjaan ini menjelaskan dengan jelas dan perlahan membuat aku percaya bisa mengerjakannya, selain itu kalimat welcome nya selalu membuat aku tenang hehe contohnya “kalo ngga paham, lupa, atau bingung langsung tanya aja yaa” huaa lega banget, terimakasih bu fit hehe

    Alhamdulillah hari pertama bekeja menggunakan aplikasi tersebut rasanya bisa aku ikuti dan kerjakan dengan tenang tanpa mengigit dan merusak kuku-ku iyaa itu kekuranganku, sata gelisah dan overthingking, rasanya kuku ku bisa rusak sebagian . Kebiasaan buruh itu masih kuusahakan untuk menghilang, walaupun sulit karena itu darisana nya kali yaa 🙁

    Bekerja di bidang baru di tahun baru selalu kusyukuri dan kuusahakan mengerjakannya dengan baik. Wish me luck! Anyeong!

  • Feels too salesy

    Dilihat langit masih belum tersenyum melihat antusias anak anak untuk berangkat sekolah. Hari selasa pagi, langit masih mendung membuat cekatan para profesi yang ingin menjalankan kegiatannya. Mereka takut dan khawatir akan terjebak lagi dalam hujan dan angin seperti kemarin. Aku pun khawatir, namun tidak begitu ku pikirkan karena pikiranku disibukkan dengan pengelolaan job desc sebagai anak perempuan pertama yang mondar mandir sana sini. Rutinitas ku sebagai anak perempuan pertama yang memiliki adik laki laki selalu saja sama dan bisa dibilang terstruktur. Tidak bisa dikatakan juga bahwa hanya aku yang memiliki jobdesc rutin setiap pagi. Aku yang pertama bangun, setelah solat langsung memasak nasi, menyiapkan bahan masakan yang akan dimasak ibu, menyapu, mengepel, setrika seragam kerja dan kuliah, menyiapkan bekal sekeluarga, dan terakhir menyiapkan perlengkapan bapa kerja.

    Tapi pagi ini ada satu hal yang perlu aku lakukan yang membuat terasa seperti aku berjualan hihi.. Hari ini terjadwal giliran aku untuk merebus bahan makanan real food seperti jagung, singkong, ubi, dan kacang sebagai snack harian di kantor. Hari sebelumnya saat sampai dirumah langsung dikupas dan dibersihkan oleh bapak aku, beliau memang suka tangannya bergerak agar aku bisa langsung mengukusnya esok hari. Dengan termos nasi biru yang kupinjam ke tetangga, aku pangku termos berukuran sedang itu ditengah motor. Saat pergantian akomodasi dari membonceng ibu ku menjadi naik ojok online, driver bertanya kerja apa aku sampe bawa termos seperti itu. Saat aku jawab bekerja di bidang IT, makin terheran driver tersebut. Mungkin bisa aku katakan ini salah satu privilege menjadi karyawan excellent yaitu setiap hari mendapatkan asupan yang bisa membantu jiwa raga dalam bekerja.

  • Nyaring Klakson

    Hari senin pagi ini terdengar berbagai jenis sound dari berbagai jenis sumber. Mulanya karena suasana langit yang tidak bersahabat di hari pertama anak masuk sekolah setelah liburan lama. Ibu yang sudah jauh hari menyiapkan bahan masakan untuk sarapan anaknya sekolah mendadak tersingkirkan menjadi persiapan alat perang menghadapi hujan disertai angin hebat diluaran. Sedari malam hujan terus menyirami daerah Bekasi, yang membuat para ibu rumah tangga, pekerja kantoran, dan warga lainnya was was khawatir banjir dan pontang panting dalam mengantar anaknya sekolah dan berangkat bekerja.

    Dan benar saja, Bekasi Senin pagi masih diguyur hujan yang sangat deras dan kencangnya angin. Aku yang selalu berangkat kerja bersama ibu naik motor juga jadi was was. Karena postur ibu aku yang mungil harus membonceng anaknya aku yang lebih besar darinya di situasi hujan lebat dan pastinya perkiraan akan banjir dan macet dimana-mana. Dari rumah tentunya sudah menggunakan jas hujan yang tertutup rapat melindungi badan dan tas berisikan laptopku. Tapi rasanya jas hujan juga mengalah, karena baru perjalanan 5 menit saja dari rumah separuh bagian bawah tubuh ibuku sudah basah kuyup karena jalan banjir dan dihantam cipratan besar dari motor dan mobil yang melintas. Rasanya aku ingin menggantikan ibu yang mengendarai motor, tapi rasanya ibu lebih khawatir kalau aku yang mengendarainya karena aku masih kagok mengendarai motor pasca kecelakaan. Daripada ibu yang harap harap cemas dibonceng aku, jadinya aku duduk tenang berdzikir di boncengan diterpa air hujan dan angin kencang.

    Alhamdulillah aku bisa sampai di kantor tanpa telat. Masuk minggu kedua bekerja, dengan memulai hari dengan basah kuyup, aku di kantor masuk tahap on boarding yang diagendakan untuk aku mengikuti pelatihan beberapa aplikasi pekerjaan. Bisa dibilang, awalnya aku sedikit linglung mendengarkan berbagai aplikasi asing tersebut. Huuhh aku yang berusaha menetralkan pikiran meyakinkan diri sendiri bahwa bisa mengerjakan pekerjaan secara bertahap namun tepat. Terakhir perasaan ini muncul adalah saat aku sidang skripsi, perasaan gelisah, kuku-ku yang rusak akibat pelampiasan rasa gelisah, dan asam lambung yang naik turun melengkapi rasa meyakinkan diri sendiri bahwa bisa dan akan berlalu.

    Tantangan baru pembelajaran baru, real tantangan bagi aku untuk terjun di dunia IT ini. Wish me luck!

  • Finally Buku Baru : Start with the new page

    Shortcut baru yang masih toktok permisi di mata aku

    Hi! OMG this so awkward haha.. Sudah lama aku tidak menulis blog seperti ini guys

    Oke let’s start, jadi di tahun baru 2026 ini aku mendapatkan rezeki yang sudah lama ada diatas angit yaila bahasanya, aku memulai lembaran baru dengan mendapatkan pekerjaan. Yap pekerjaan, sebagai job seeker yang hari harinya selalu gonta ganti open job seeker app, aku selalu berdo’a dan berharap setiap mengklik apply” segala loker. Karena aku lulusan manajemen agribisnis, jadinya pekerjaan dengan spesification agribisnis terbilang tidak banyak, untungnya di perkuliahan output yang aku dapatkan sebagian besar adalah dari segi manajemen yang dapat mendukung aku untuk terjun di berbagai manajemen bisnis.

    Tetapi, sama sekali tidak terpikirkan untuk seorang asri ini, yang dulu menganggap IT adalah hal yang paling merumitkan di dunia, ternyata itu adalah jalan terbaik yang Allah tentukan untuk aku di tahun baru 2026 tepatnya 5 Januari 2026. Aku menandatangani kontrak kerja sebagai Sales & Business Development sebuah perusahaan IT di Bekasi.

    “Katanya menghindari IT, kenapa di apply lokernya” ucapku dalam hati untuk pikiran dan jari tubuh ini huft. Mungkin sebagian job seeker memegang prinsip ini “semua yang nyambung kita apply, tinggal rezeki kita aja nanti dimana”, dan itu juga prinsip aku saat mencari pekerjaan sambil melakukan pekerjaan sebagai asisten dosen. Jujur dalam melakukan proses seleksi posisi ini, aku sama sekali tidak mempersiapkan apapun selain sinyal dan laptop, but yes im here as new employment. Sebelum bekerja, hati dan pikiran selalu fight untuk meyakini diri sendiri bahwa aku bisa di bidang yang aku takuti dulu.

    Ini baru hari ke-5 aku bekerja (walaupun belum real mengerjakan job desc pekerjaan), tapi bisa kukatakan aku bisa bekerja disini dengan nyaman bersama tim yang kooperatif. Perusahaan ini memiliki budaya kerja yang bisa meningkatkan lagi rasa semangat aku dalam menulis, literasi, riset, dan banyak lainnya. “Menulis membaca?” Yap budaya yang sulit ditemukan di tempat kerja lain (mungkin), yang dimana hanya ber fokus untuk bekerja dan menghasilkan profit. Tapi di perusahaan ini kami berkembang dan bertumbuh bersama dengan upgrade diri melalui rutinitas belajar bahasa inggris, menulis blog, dan membaca artikel.

    Next lagi deh aku spill lagi keseharian as a new employment bcz still a lot things that make me more comfortable (maybe insyaAllah) Anyeong!

  • New Challenges Marketing Proxmox

    Today, I am still in my onboarding phase as a new employee at Excellent. Honestly, everything feels new to me, especially learning about Proxmox, a service I had never known before.

    Instead of going deep into technical details, today I focused more on the marketing side, especially how to explain Proxmox services to clients in a simple and understandable way. This made me realize that selling IT services is not only about the technology itself, but also about how we communicate it to people with different backgrounds.

    My learning process today was greatly helped by ChatGPT, which supported me in understanding and practicing how to deliver Proxmox services clearly. Even though I still have a lot to learn, today’s experience helped me gain a little more confidence.

    I’m trying to enjoy this process step by step. I don’t have to understand everything right away, as long as I keep learning and moving forward.

  • Learning Proxmox and Building Daily Routine

    Wednesday, January 7, 2026

    Today was my third day at work. I continued learning about Proxmox and followed my daily learning routine as part of my role in Sales and Business Development.

    I studied Proxmox through the official website, focusing on Proxmox Backup Server. From this, I learned that Proxmox is not only used for virtualization, but also helps companies manage secure and efficient backups.

    I also reviewed the presentation materials used for client discussions about Proxmox Virtual Environment (PVE), including the FAQ. This helped me understand how the product is explained to clients.

    In addition, I learned about several Proxmox subscription agreements, including Proxmox Mail Gateway, Proxmox Backup Server, and Proxmox Virtual Environment.

    To complete my daily routine, I studied English on Duolingo and read an article from Dahlan Iskan’s Daily Notes on Disway titled “Timtim Maduro.”

    Overall, today was a steady learning day that helped me gradually understand the products I will be offering to clients.